Showing posts with label the way of life. Show all posts
Showing posts with label the way of life. Show all posts

Friday, December 20, 2019

Bergerak tapi Terasa Diam

Setahun sudah berlalu, namun kisah tak kunjung membaik, perjuangan setapak demi setapak sudah dilalui tapi masih belum merubah nasib, masih tetap dengan keadaan yang sama atau bisa dibilang makin memburuk, semakin banyak gw ciptain musuh, semakin menipis kepercayaan mereka bahwa gw bisa bangkit, karena pengajuan demi pengajuan selalu gagal.

Gw sadar, bahwa waktu itu seharusnya gw bisa bangkit, tapi gw terlalu menganggap remeh soal safty, gw terlalu yakin dengan pengajuan, mungkin karena respon yang dilontarkan oleh marketing, disitu gw lupa, bahwasannya kalimat yang keluar dari mulut tidak akan bisa dipercaya 100%, hanya kalimat dalam tulisan yang bisa dibuktikan keabsahannya. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur dan waktu yang sudah berlalu ga bisa gw ulang lagi, penyesalan tinggal penyesalan dan gw harus tetap bertanggung jawab, dengan cara apa gw sendiri masih mencari tahu, tidak ada cara mudah, cara yang sulit pun masih belum terlihat, hanya janji-janji yang menghampiri.

Akibatnya gw juga bisa mengucap janji kepada mereka, namun kurun berjalannya waktu mereka pun akan kesal terhadap gw yang selalu mengumbar janji, gw ga punya jawaban apa-apa lagi selain mengeluarkan kalimat dari marketing, entah gw harus mulai dari mana untuk meniti karir, yang jelas gw harus tetap berusaha, demi masa depan keluarga gw dan demi mengembalikan kepercayaan yang sudah mulai terkikis.

Saat ini, inilah usaha yang gw sedang coba
https://www.tokopedia.com/budi83/kaos-cotton-combed-30s-lengan-pendek
https://www.olx.co.id/item/kaos-inspirasi-buat-para-pencari-nafkah-iid-765160575
- https://www.bukalapak.com/p/fashion-pria/kaos-165/2lieriu-jual-kaos-inspiratif-cotton-combed-30?from=product_owner&product_owner=normal_seller

Saudara, kawan, orangtua sudah hampir hilang kepercayaannya terhadap gw, sampai kapan? entah, gw akan tetap terus berusaha, sampai titik darah penghabisan, sampai maut mengambil nyawa gw, demi mereka yang pernah percaya sama gw.

semoga semua ini cepat berakhir, dan kebahagiaan menghampiri keluarga gw, Aamiin Ya Rabbal Alamiin

Friday, August 9, 2019

Menyerah Itu Mudah, Berjuang Itu Sulit

Aneh tapi nyata, mungkin bisa dibilang begitu, sungguh telah menjadi sifat dasar manusia yaitu bertahan dan sedemikian mungkin untuk tampil terlihat kuat, ketika timbul pertanyaan secara personal maka sesegera mungkin mencari jawaban untuk menunjukkan dia orang kuat dan mempertahankan kalimatnya, akan tetapi ketika menjalankannya mulai menyesuaikan dengan kemampuan, jadi pada intinya terkadang kita baru menyadari sampai dimana batas kemampuan kita ketika menjalan dan kita tidak pernah tau batasan hanya berdasarkan teori.

Menyerah itu mudah, berjuang itu sulit

Lalu kenapa kita pilih yang sulit ketika ditanya?! Dan memilih menyerah ketika menjalankan?!

Ini yang sudah terjadi terhadap saya, saya memulai usaha dari bagian yang kecil hingga yang besar, dari mulai jualan kripik singkong dan tape goreng ketika SLTA, jualan pulsa ketika lulus sekolah, produk-produk pakaian dll, sehingga terus mengalami peningkatan, tanpa didasari dengan ilmu yang cukup serta wawasan yang luas maka kerugian atau kebangkrutan tidak dapat dihindarkan, dari kejadian per kejadian, kerugian per kerugian selalu saya pelajari setiap kesalahan yang telah saya buat dan hal tersebut masih saya dapat atasi, karena yang saya kaji adalah produk dan usaha yang saya jalani sendiri.

Sampai pada suatu saat hadirlah sebuah kesempatan untuk membuat perusahaan, yang cakupan marketnya sudah pasti lebih luas dan lebih beragam, bukan itu saja, di sini bukan hanya diri sendiri serta produk yang saya kaji, akan tetapi juga para pekerja lainnya yang perlu saya kaji, namun hal tersebut kurang saya maksimalkan, saya terlalu terfokus kepada produk dan perluasan market yang saya kejar, hingga akhirnya terjadilah sebuah kejadian yang tidak diingingkan oleh pengusaha manapun (kejadian tersebut sudah saya ulas diartikel sebelumnya) yaitu bangkrut.

Bulan demi bulan, hari demi hari kembali saya mengkaji apa kesalahan saya dan saya harus seperti apa jika kesempatan itu datang lagi, sekarang saya kembali mendapatkan kesempatan itu lagi, namun sebelum saya jauh melakukannnya saya melakukan sebuah riset yang masih perlu saya kaji lagi dalam sebuah quisioner, yang nantinya quisioner tersebut akan saya bahas pada artikel selanjutnya, dan saya juga akan mengulasnya dalam bentuk video di kanal youtube saya.

Bagi anda yang sudah mampir mohon kiranya untuk menyediakan waktu untuk mengisi quisioner tersebut.


Terimakasih

Tuesday, July 23, 2019

History of my life

Salam kepada semua makhluk maya



Sempat saya buat video seputar apa yang saya alami, namun setelah saya mengkaji hasilnya, terlalu awkward buat saya, jika saya saja sudah merasa terlalu awkward dengan video tersebut, saya merasa orang akan merasa absurd dengan video tersebut dan akan timbul berbagai macam interpretasi yang berbeda serta terkesan terlalu mengemis, padahal keinginan saya dari apa yang akan saya ceritakan adalah orang tidak mengalami hal yang sama atas yang sama alami, alhasil rekaman tersebut saya tinggalkan, dan saya mencoba untuk menulis di sini saja atas apa yang pernah alami, terlebih saya berancana akan menulis beberapa artikel menganai kehidupan yang saya alami, atau mengenai pengetahuan-pengetahuan yang saya akan kaji (eeeiiittt….saya bukan profesor ya, walau kepala botak) bebas dong berekspresi.

Hampir sekitar setahun kejadian, lebih tepatnya bulan September 2019 perusahaan yang saya pimpin tidak dapat diselamatkan lagi dan lebih parahnya lagi perusahaan tersebut mengalami kerugian yang amat sangat besar bagi saya yang berstatus tidak memiliki asset apa pun, setengah miliyar lebih hutang saya dapat, berbagai kajian dan usaha saya lakukan, dari mulai mengkaji kembali data keuangan perusahaan sampai dengan mencari pinjaman ke bank, kurang lebih 5 bank saya datangi namun lagi-lagi tak berhasil, awalnya hanya karena dari surat agunan, tapi setelah saya urus ada lagi yang tak bisa saya urus, yaitu BI checking saya rusak, tenggelam sudah.

Bukan hanya itu saja, kajian data pun saya lakukan, namun dalam keadaan stres dan terpojok karena harus membayar hutang, alhasil kajian data pun semrawut, emosional dalam melihat data hasilnya tidak akan bagus, terbukti saya salah lagi dalam melihat data, makin kacau suasana, ditagih hutang sana sini, diterpa gosip yang saya sendiri kurang faham apa maksudnya, dan yang lebih menjadi pusat perhatian adalah anak istri saya.

Dalam keadaan bingung ditagih hutang dan diterpa gosip saya merasa harus melindungi keluarga saya terlebih dahulu, saya tak ingin istri saya mendengar teriakan tagihan hutang dan bisik-bisik gosip yang tersebar, akan lebih sulit saya menahan emosi untuk menjelaskan semua itu, jadi saya ambil keputusan untuk berhenti bekerja dan mencari tempat tinggal baru untuk istri dan anak-anak ku, sementara saya mencari tempat tinggal, istri dan anak-anak saya titipkan kepada mertua.

Saya perlu menenangkan diri dan berfikir jernih untuk menentukan langkah selanjutnya, bukan untuk melarikan diri dari hutang tersebut, cuma atas dasar data di atas saya pikir mereka bukan butuh jawaban saya, yang mereka butuhkan adalah saya harus bayar hutang, apa pun bahasa yang saya keluarkan tetap saja hutang saya harus bayar, saya mencoba menyembunyikan diri dan menghilang, saya lakukan itu karena saya harus mencari uang untuk keluarga saya, dan yang paling penting membayar hutang-hutang tersebut.

Berbulan-bulan sudah saya lewati namun tak kunjung ada hasil, saya keluar dari persembunyian, saya hadapi mereka dan kembali menerangkan dengan nada memohon “saya pasti saya akan bayar, saya hanya butuh waktu” hanya itu bahasa yang saya punya, dalam hati ingin saya berkata “ saya akan bayar, namun saya butuh bantuan” dengan menawarkan beberapa konsep, tapi mereka sudah terlanjur kecewa berat dengan apa yang terjadi, tingkat kepercayaan kepada saya pun menurun.

Tepat pada bulan Januari saya akhirnya mendapatkan tempat tinggal untuk keluarga saya, namun lagi-lagi mengalami kebingungan dari mana saya membayar uang sewa, di sini saya mengambil sebuah rumah untuk disewa, dan kenapa bukan jenis kontrakan petakan yang mungkin biayanya lebih murah, setelah berdiskusi dengan istri ku yang tersayang dan yang terkuat maka inilah dasar keputusan yang saya paksa dia untuk menyetujuinya : yang pertama saya tidak ingin anak-anak kami merasa syok mendalam atas apa yang saya alami, saya ingin rumah juga menjadi sarana bermain mereka maka dibutuhkan yang aga besar, kedua saya butuh tempat untuk berekpresi dan menyusun konsep apa yang harus saya lakukan.

Mengenai biaya sewa rumah, saya meyakinkan istri bahwa saya pasti bisa bangkit, dan mengikhlaskan apa yang telah kita miliki, termasuk mobil karena sudah kuat membayar maka dikembalikan ke deller, emas yang dimiliki oleh istri juga terpaksa harus dikhlaskan pergi untuk membayar sewa rumah dan untuk makan sehari-hari.

Saya kira cukup cerita tentang apa yang saya alami, lagi-lagi di sini saya ambil pelajaran penting, namun tidak dijelaskan saat ini, diartikel selanjutnya saya akan menjelaskan kenapa itu semua terjadi, namun sebelum saya menjelaskan saya membuat quisioner, saya harap pembaca ikut berpatisipasi mengisi, dan terimakasih kepada yang telah membaca, saya menceritakan ini bukan untuk mencari simpati, namun ini lah yang terjadi jika anda tidak cermat.
Wassalam


Link quisioner klik disini

Ditinggal atau meninggalkan

Ada yang ditinggal bapaknya Ada yang ditinggal Ibunya Ada yang ditinggal kandungnya Ada yang ditinggal saudaranya Ada juga yang ditinggal ka...