Showing posts with label rindu. Show all posts
Showing posts with label rindu. Show all posts

Thursday, February 22, 2024

Apa Kabar?

Apa kabar para pujaan hati
Tetap rindu ya?!
Jika tidak, tak apalah
Biar rasa rindu itu aku yang menahan
Rasanya begitu sakit dan sepi

Aku paham kalian telah lelah menanti
Harus berjibaku dengan kerasnya kehidupan
Tapi aku juga tau, kalian luar biasa
Nikmati saja apa yang ada
Dan jangan lupa selalu bersyukur

Aku tak pernah bisa memastikan tentang hari esok
Tapi aku yakin, Rahmat Tuhan begitu besar
Akan ku usahan yang terbaik untuk kalian
Kalian nikmatilah semua yang disediakan oleh-Nya

Tetaplah tersenyum dan tertawa
Bukti bahwa kita senang menerima semua takdir-Nya

Wahai pelita ku ...
Aku rindu
Peluk aku nanti
Erat dan keras

Tuesday, January 9, 2024

Kita Jumpa Lagi di Surga

Kini kau telah terbaring terbujur kaku
Menyatu dengan tanah liat kembali ke asal
Dahulu kita sering berselisih pendapat
Kini aku rindu pendapatmu
Dahulu kita sering berselisih paham
Kini aku semakin tidak paham

Rasa hilang timbul ketika sudah tidak ada
Rasa sayang hadir ketika aku penuh kasih sayang
Ku lantunkan doa untuk mu di setiap waktu
Agar kau tak merasa gelap dan sendiri

Aku janji akan menjadi yang terbaik
Mungkin aku tidak bisa melebihi mu
Pandai menyimpan keluh kesah
Dan selalu punya jalan keluar terbaik
Walau itu beban terberat untuk

Kan selalu memperhatikan keturunan
Aku pun akan melakukannya
Aku mulai titik ku dari sini
Dan aku tak pernah menyesal menjadi penerusmu

Pak... Tenang-tenang ya kau di sana
Kita jumpa lagi nanti di surga
Kan ku ceritakan keberhasilan mu
Yang telah mendidik ku

Friday, December 1, 2023

Masih Rindu

Rasa rindu kembali hadir
Rindu terhadap anak-anak ku
Rindu kepada istri ku

Teruntuk Ibu ku
Tetaplah sabar menunggu ku
Akan ku hajar adik adik ku

Monday, October 30, 2023

Balutan Rindu

Dari pada kepikiran lebih baik aku paksakan untuk menulis, kuota pakai versi bayar nanti dulu 😁.
Alila Khansa, Abyan Neal Sulaiman, Anindira Hartanti, ketiga anak ku yang dilahirkan dengan berbeda tahun, beda bulan dan beda tanggal, akan tetapi sering kali ketika sakit mereka selalu bergantian, pernah suatu ketika Alila berujar kepada ku, "Pak Alila, Abyan, Nindi lagi pada sakit, habis ini ibu ya? Yang sakit!", Sontak saja aku berkata "Ya...jangan lah, nanti bapak yang repot" dan tak lama kemudian akhirnya ibu nya sakit, repot lah aku.
Ku hentikan semua kegiatan ku dan mulai fokus merawat keluarga ku dengan aga sedikit keras kepada istri ku agar dia rajin untuk makan, badannya yang kurus itu terserang penyakit karena dia malas makan, 'tipes' penyakit yang waktu itu dideritanya, ku belikan apa makanan kesukaan mereka, tapi mereka tetap saja pilih bubur, kalau istri ku dia pilih soto mie, walau aku sarankan untuk tidak karena pasti dia ingin sambal, tapi aku mengalah, yang penting dia mau makan dan tidak mengkonsumsi banyak sambal.
Kali ini suasananya berbeda, istri ku harus berjuang sendiri, seluruh perencanaan ku untuk membantunya harus tertahan oleh waktu, sampai membantu membeli obat pun sulit.
Janji buih sering dilontarkan mereka (tunggu bebas, tunggu besok, Tunggul tanggal sekian) entah sudah berapa janji buih yang ku dengar, tapi aku memahaminya, karena aku bukan siapa-siapa mereka dan aku memahami hanya kepada Allah aku harus berharap.
Entah sudah berapa kali aku mendengar mereka sakit dan aku tidak bisa membantu, entah hikmah apa yang akan aku dapat, yang penting aku yakin bahwa akan ada hikmah setelahnya, aku pasrahkan pada yang Maha Kuasa atas apa yang terjadi, tiada daya dan upaya melainkan atas dasar kekuasaannya, tetap bersyukur dan tetap yakin bahwa ada hasil yang baik.
Ketiga anak ku saat ini kembali sakit bergantian, urutannya pun di mulai dari yang tertua, lekas sehat kalian semua, bapak saat ini hanya mampu berdoa.
Ada satu lagi orang yang hampir saja setiap hari menanyakan kabar ku, yaitu Ibu ku, pernah dia bercerita betapa berharapnya aku cepat kembali, karena menurutnya aku satu-satunya yang mampu berbicara santai dan menghibur, kalau menurut beliau "kalau yang lain terlalu serius", atau lebih tepatnya begini, kalau ngobrol terlalu serius sampai kurang guyon, tapi kalau suruh cari duit ga da yang bisa serius, malah hutangnya yang serius banyak, sedangkan aku menurut ibu ku, kebalikannya.
Sebelum ku tutup adegan ini kembali ku mengingatkan untuk diri ku, bahwa selama di dalam aku banyak di bantu oleh kawan ku, kenapa aku butuh itu, akan ku ceritakan secara singkat pada adegan berikutnya.

Rindu yang Tertahan

Seketika terdengar suara benturan sendok dan piring membuat ku teringat sesuatu, bukan karena lapar atau rindu makanan, tapi seketika ku rindu ketiga anak ku yang lahap dengan santapannya, terakhir ku lihat foto mereka terlihat kurus.
Abyan pernah menghubungiku dan menangis tersedu-sedu karena kawannya telah membulinya dengan kalimat tidak jelas dengan menyebut namaku, tidak jelas maksud dari kalimat tersebut, namun hal tersebut membuat anak ku menangis, mungkin karena dia bosan mendengar kalimat itu berulang dan ku janjikan padanya, "kita pindah rumah nanti".
Pada hari yang sama semakin ku berasa penyesalan terdalam, ketika tak mampu memimpin mereka saat ini, mereka butuh sosok lelaki yang bisa memimpin dan memberikan mereka kasih sayang untuk dijadikan contoh di masa yang akan datang, sebagai pendengar cerita dari sekian banyak keluh kesah.
Istriku saat ini menjadi penopang untuk kelangsungan hidup keluarga ku, dia harus memenuhi setiap sandang, pangan dan papan bagi mereka anak-anak ku, di tengah terpaan cobaan yang menghempas, saat ini cuma saran yang itu itu saja yang bisa ku lontarkan padanya "sabar" tiada kata lain, yang sebenarnya aku tidak tahu lagi harus berkata apa.
Takdir ini harus ku lalui dengan sabar, mencoba menjalani dengan mencari setiap ilmu yang tersirat, memahami, mengamalkan dan tetap fokus menatap masa depan dengan mengambil pelajaran dari masa lalu, pahit terasa ketika rindu itu datang, tapi mau dikata apa, proses harus tetap berjalan.
Setiap rindu yang hadir harus kubenam dan ku simpan. Rasa lapar, keinginan berat untuk sekedar menikmati kopi dan hisapan tembakau masih bisa kuhadapi, tapi tidak dengan rindu, aku hanya bisa bersabar, terkadang aku mampu menghadapi rasa rindu itu, kenikmati dengan asap tembakau, menikmati setiap tegukan kopi, atau terkadang menikmati makanan yang lezat, walau hal tersebut kadang sulit didapat, ingat, aku tidak sedang mencari di sini.
Aku mohon pada Mu Tuhan, kabulkan perhonan ku yang ini, aku ingin mereka terpenuhi dan masih meyakini bahwa bapaknya masih aktif dan mampu menggandeng tangan mereka menyongsong masa depan yang lebih indah.

Wednesday, October 25, 2023

All I want just to be home

Disela menikmati musik Foo Fighter, ada kalimat yang membuat ku sedikit berlinang dan berkaca-kaca, entah apalagi yang harus kuhadapi kedepan, jika aku sanggup itu karena aku tahu ilmu, jika tak sanggup maka di dalamnya ada ilmu.
Aku hanya sedang merindukan rumah, bercanda dengan ketiga anak ku, Alila, Abyan, Anindira atau membuat kesal istri ku dengan candaan, aku rindu akan itu semua, aku lelaki tapi ada masa dimana aku harus lemah.
Kurang lebih satu tahun sepuluh bulan aku jalani, jauh dari mereka keluarga tersayang dan hampir setiap hari ibu ku mengirimkan pesan singkat dengan isi doa doa semoga aku selalu sehat, cepat pulang dan semoga ada keajaiban, aku hanya menjawab "Aamiin" dan mendoakan ibu ku kembali.
Terimakasih kawan-kawan ku yang sudah membantu untuk ku bertahan disini dan tetap waras, semoga kalian tak bosan membantu.

Ditinggal atau meninggalkan

Ada yang ditinggal bapaknya Ada yang ditinggal Ibunya Ada yang ditinggal kandungnya Ada yang ditinggal saudaranya Ada juga yang ditinggal ka...